The Power of Flexibility
Ini hal yang sering saya temui di lapangan, dan mungkin juga terjadi pada Anda atau orang-orang disekitar Anda. Ad orang yang ketika di perusahaan, dia begitu dihormati dan begitu disegani oleh orang-orang disekitarnya, tentu saja karena posisinya sebagai direktur / pemimpin, tapi di rumah keluarganya kacau balau, bertengkar dengan istri jadi rutinitas sehari-hari. Anak-anak tidak nurut omongannya, padahal dia adalah pemimpin keluarga.
Intinya meskipun sama-sama menjadi pemimpin namun hasil di kedua tempat tersebut jauh berbeda. Mengapa hal itu terjadi? Yah faktor terbesar adalah fleksibilitas.
Maksudnya apa?
Fleksibilitas memampukan kita melenturkan pikiran dan perasaan kita agar dapat menyesuaikan dengan keadaan dan kondisi yang ada.
Ketika kita melihat orang lain di perusahaan menghormati kita, jangan buru-buru mengasumsikan diri bahwa semua orang yang kita temui dimana saja bakal menghormati kita. Itu salah besar. Jangan pernah membuat asumsi orang lain akan menyesuaikan dengan diri kita. Ketika asumsi kita salah, kita menjadi marah, dan menganggap orang lain tidak menghormati kita. Benarkah mereka tidak menghormati kita? atau jangan-jangan kita yang tidak bisa fleksibel ?
Bagaimana cara menjadi fleksibel ? Terapkan teknik Rapport & Raih Trust.
Jika kita berbicara dengan “kucing”, maka kita harus berbicara tentang hal-hal yang disukai “kucing” bahkan kalau perlu kita harus bisa seperti kucing juga. Jika ketemu macan, bicarakan topik-topik yang disukai “macan.” Jika mereka sudah nyaman. Maka mereka akan percaya dengan kita. Dan apapun yang kita ucapkan akan lebih mudah dipercaya dan kata-kata kita menjadi lebih susah untuk ditolak.
Jadi, agar orang lain mempercayai omongan kita, maka kita harus jadi orang yang bisa dipercaya terlebih dahulu.
Bahkan di NLP maupun di hipnosis, ada istilah “matching and mirorring”. Yah itu sebuah teknik membuat kita terhubung (nyambung/konek) dengan teman bicara kita. Menyamakan diri dengan orang tersebut.
Dalam Materi-materi psikologi atau motivasi ada juga istilah “empati”. Yah apapun istilahnya, itu semua agar melatih diri kita menjadi fleksibel memahami dari sisi teman bicara.
Btw, ngomong-ngomong untuk menjadi fleksibel butuh pembelajaran yang tidak cuma sehari lho. Kita harus belajar setiap hari.
Siapa yang ngajari? Guru sebenarnya adalah dunia kita dan orang-orang di sekitar kita.
Jadi selamat berguru.
?

